373 Ogoh-Ogoh Akan Diarak di Malam Pangerupukan, MDA Denpasar Batasi hingga Pukul 24.00 Wita

Perayaan Pangerupukan menjelang Hari Nyepi di Denpasar tahun ini dipastikan meriah dengan kehadiran 373 Ogoh-ogoh yang akan diarak oleh warga. Majelis Desa Adat (MDA) Denpasar resmi menetapkan bahwa seluruh pawai Ogoh-ogoh dibatasi hingga pukul 24.00 Wita untuk menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat.
Ribuan Warga dan 373 Ogoh-Ogoh Siap Ramaikan Pangerupukan
Pangerupukan merupakan tradisi khas Bali yang dilakukan sehari sebelum Nyepi. Tahun ini, sebanyak 373 Ogoh-ogoh akan diarak di berbagai wilayah kota Denpasar. Patung raksasa ini dibuat oleh warga dengan kreativitas tinggi, sering kali menampilkan tokoh mitologi, makhluk fantasi, hingga kritik sosial.
MDA Denpasar menegaskan bahwa partisipasi warga sangat tinggi, sehingga arak-arakan diperkirakan akan dihadiri ribuan orang dari berbagai desa adat.
Batas Waktu Arak-Arakan Ogoh-Ogoh
Untuk menjaga ketertiban dan keamanan selama pawai, MDA Denpasar menetapkan batas waktu arak-arakan hingga pukul 24.00 Wita. Hal ini bertujuan agar warga dan wisatawan dapat menikmati pawai dengan aman, sekaligus memastikan aktivitas di jalan utama tidak terganggu.
“Batas waktu ini penting untuk menghindari kepadatan berlebihan dan memastikan setiap peserta bisa pulang dengan aman,” ujar perwakilan MDA Denpasar.
Kreativitas Ogoh-Ogoh yang Memukau
Sebanyak 373 Ogoh-ogoh yang diarak merupakan hasil karya warga dari berbagai banjar di Denpasar. Setiap Ogoh-ogoh dihias dengan detail dan warna yang mencolok, mencerminkan kreativitas dan filosofi di balik tradisi Pangerupukan.
Beberapa Ogoh-ogoh menampilkan tokoh mitologi Bali, sementara yang lain mengangkat tema modern atau kritik sosial. Kegiatan ini menjadi ajang ekspresi seni sekaligus edukasi budaya bagi masyarakat, terutama generasi muda.
Dampak Positif bagi Pariwisata
Arak-arakan Ogoh-ogoh di Denpasar bukan hanya menjadi hiburan lokal, tetapi juga menarik wisatawan domestik dan mancanegara. Keindahan dan kreativitas Ogoh-ogoh membuat Pangerupukan menjadi daya tarik wisata budaya yang khas Bali.
Wisatawan yang hadir dapat menyaksikan langsung pembuatan dan arak-arakan Ogoh-ogoh, sekaligus belajar tentang filosofi budaya Nyepi dan tradisi Hindu Bali.
Pengawasan dan Keamanan Selama Pawai
Selain menetapkan batas waktu, MDA Denpasar bekerja sama dengan aparat kepolisian dan pecalang untuk memastikan pawai berlangsung aman. Jalan utama di beberapa titik strategis dijaga, dan arus lalu lintas diatur agar masyarakat dan wisatawan bisa menikmati acara dengan nyaman.
Setiap peserta juga diwajibkan menjaga Ogoh-ogoh yang mereka bawa agar tidak menimbulkan gangguan atau kerusakan di jalan.
Kesimpulan
Pangerupukan 2026 di Denpasar akan menjadi perayaan yang meriah dengan 373 Ogoh-ogoh diarak di malam menjelang Nyepi. Dengan batas waktu hingga pukul 24.00 Wita, MDA Denpasar memastikan tradisi ini tetap aman dan tertib, sambil menghadirkan momen edukatif dan wisata budaya bagi warga serta pengunjung.
Tradisi Pangerupukan bukan sekadar hiburan, tetapi juga sarana melestarikan budaya Bali, menumbuhkan kreativitas masyarakat, dan memperkuat identitas lokal.