Gelombang Laut Bali Bisa Capai 4 Meter, BMKG Ingatkan Wisatawan dan Nelayan Lebih Waspada

Masyarakat yang beraktivitas di perairan Bali diminta meningkatkan kewaspadaan. Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Wilayah III Denpasar memperingatkan potensi gelombang tinggi hingga 4 meter pada 10–13 September 2026.
Gelombang dengan ketinggian 2,5 hingga 4 meter berpotensi terjadi di sejumlah kawasan perairan, terutama Selat Bali bagian selatan, perairan selatan Bali, dan Selat Lombok bagian selatan.
Tiga Kawasan Berpotensi Gelombang Tinggi
Peringatan BMKG mencakup beberapa wilayah yang menjadi jalur aktivitas masyarakat dan transportasi laut.
Gelombang kategori tinggi diperkirakan terjadi di Selat Bali bagian selatan, Perairan Selatan Pulau Bali, serta Selat Lombok bagian selatan.
Sementara itu, gelombang dengan ketinggian sekitar 1,25 hingga 2,5 meter berpotensi terjadi di Perairan Utara Bali, Selat Badung, dan Selat Lombok bagian utara.
Angin dan Arus Laut Perlu Diwaspadai
Selain tinggi gelombang, kondisi angin dan arus juga menjadi faktor yang perlu diperhatikan oleh pengguna transportasi laut.
BMKG mencatat kecepatan angin di wilayah perairan utara Bali dapat mencapai 30 knot. Sementara di perairan selatan Bali, kecepatan angin berada pada kisaran hingga 25 knot.
Untuk 11 September 2026, arus tertinggi diprakirakan berada di Selat Lombok bagian selatan dengan kecepatan hingga sekitar 3,12 knot.
Nelayan dan Operator Kapal Diminta Berhati-hati
Kondisi gelombang tinggi dapat meningkatkan risiko bagi kapal berukuran kecil maupun aktivitas wisata bahari.
BMKG menyebut perahu nelayan memiliki risiko ketika kecepatan angin mencapai 15 knot dan tinggi gelombang sekitar 1,25 meter. Untuk kapal tongkang, risiko meningkat pada kecepatan angin 16 knot dan gelombang 1,5 meter.
Sementara kapal feri perlu mewaspadai kondisi ketika angin mencapai 21 knot dan tinggi gelombang 2,5 meter.
Wisata Bahari Perlu Menyesuaikan Kondisi
Bali memiliki banyak aktivitas wisata yang berkaitan dengan laut, mulai dari perjalanan menggunakan kapal hingga berbagai kegiatan di kawasan pesisir.
Karena itu, wisatawan dan operator wisata bahari sebaiknya tidak hanya memperhatikan kondisi cuaca di daratan. Informasi gelombang dan angin juga penting sebelum melakukan perjalanan.
Peringatan BMKG dapat menjadi acuan agar aktivitas di laut tetap mengutamakan keselamatan. Jika kondisi dinilai berisiko, perjalanan sebaiknya ditunda hingga keadaan kembali memungkinkan.